Antara Verifikasi Domain dan Verifikasi Bekal Akhirat

Pagi ini, layar monitor saya terasa lebih "berat" dari biasanya. Di hadapan saya, tab peramban terbuka pada halaman inbox email. Ada email masuk yang harus saya balas. sedikit urusan administratif dengan hernawan.net; sebuah proses verifikasi kepemilikan yang cukup menyita perhatian. Bagi seorang pengelola blog, domain bukan sekadar alamat digital, melainkan identitas dan rumah bagi pikiran-pikiran yang kita bagikan.

Moko dan Freddy

Mungkin karena terlalu fokus, garis-garis di kening saya tercetak jelas. Suasana ruangan yang tenang membuat setiap ketukan jari di atas keyboard terdengar seperti detak jam yang memburu waktu. Di tengah keseriusan itu, pintu ruangan terbuka. Seorang kawan melangkah masuk, memecah hening yang sedari tadi saya bangun.

"Lagi sibuk, Pak Freddy?" tanyanya, menangkap raut wajah saya yang kaku.

Saya mengalihkan pandangan sejenak dari layar, mengembuskan napas, lalu tersenyum tipis. "Ya, sibuk seperti biasa. Cuma hari ini memang harus sedikit lebih serius," jawab saya jujur.

Kawan saya ini memang ahli dalam mencairkan suasana. Alih-alih bertanya lebih dalam tentang teknis kesibukan apa yang melanda, dia justru mencari celah percakapan lain. "Tahu tidak, Pak? Dalam waktu dekat akan ada film tentang Michael Jackson yang rilis," cetusnya sambil memperhatikan reaksi saya.

Seketika, ketegangan di bahu saya melonggar. Saya menyambutnya dengan senyum yang lebih lebar kali ini. "Iya, saya dengar kabarnya. Tapi belum diputar sekarang, kan? Iye, saye tahu mau ngajak saye nonton ke Singkawang kan?" 

Melihat saya sudah bisa diajak bercanda, dia langsung menarik kursi dan duduk tepat di depan saya. Namun, suasana yang tadinya ringan tiba-tiba bergeser menjadi sedikit filosofis. Dia menatap saya dengan pandangan yang dalam, seolah ingin mengingatkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan pekerjaan atau perizinan.

"Jangan terlalu sibuk memikirkan dunia, Pak Freddy," ucapnya pelan namun tegas. "Ini semua hanya sementara. Pada akhirnya, semuanya akan kita tinggalkan. Pekerjaan, harta, bahkan anak dan istri... semuanya akan kita lepas."

Ruangan kembali hening sejenak. Kalimatnya menghujam tepat di tengah kesibukan saya. Saya terdiam, merenungkan kebenaran sederhana yang seringkali terlupakan saat kita terhimpit tenggat waktu dan ambisi.

"Iya, benar sekali," sahut saya pelan. "Semua memang hanya titipan. Dunia ini persinggahan, dan kita semua memang sedang mengantre untuk menuju dunia baqa."

Saya menyandarkan punggung ke kursi, lalu melanjutkan, "Tetapi, perlu diingat juga. Untuk meninggalkan itu semua, kita butuh persiapan. Meninggalkan anak dan istri bukan berarti membiarkan mereka tanpa arah. Kita harus pergi dengan tanggung jawab, supaya apa yang kita kerjakan di sini tidak menjadi sia-sia."

Bagi saya, bekerja dengan serius termasuk memastikan rumah digital saya tetap tegak adalah bagian dari tanggung jawab itu. Dunia memang sementara, namun jejak yang kita tinggalkan di dalamnya haruslah bermakna. Kita mempersiapkan bekal untuk "pulang" justru dengan cara menunaikan amanah di sini dengan sebaik-baiknya.

Kami saling melempar senyum. Sebuah pemahaman tanpa kata terjadi di antara dua orang yang sedang diingatkan oleh waktu. Tidak ada debat, hanya saling menguatkan sudut pandang.

Tak lama kemudian, dia bangkit dari kursinya, merasa misinya untuk menyapa dan mengingatkan saya sudah selesai. "Sille (silakan) lah, Pak Freddy. Dilanjutkan lagi pekerjaannya," pamitnya sambil melangkah keluar ruangan.

Pintu tertutup kembali. Saya kembali menatap layar monitor. Verifikasi domain hernawan.net masih berjalan, namun kali ini saya mengerjakannya dengan perasaan yang lebih tenang. Benar kata kawan saya, dunia ini sementara. Namun selama saya masih diberi napas, saya ingin memastikan bahwa setiap detik yang saya habiskan adalah bentuk tanggung jawab yang kelak bisa saya pertanggungjawabkan.

Karena pada akhirnya, yang kita bawa bukan seberapa besar nama kita di dunia, melainkan seberapa bermanfaat kita bagi mereka yang kita tinggalkan.

Komentar