Ada satu hal yang sering saya sadari belakangan ini: tidak semua kegelisahan bisa menemukan jalannya untuk keluar. Bukan karena tidak ingin diungkapkan, tetapi karena ada batas-batas yang harus dijaga.
Saya pernah mendengar Raditya Dika mengatakan bahwa bahan tulisan bisa datang dari kegelisahan. Kalimat itu sederhana, tapi terasa sangat dekat. Karena kalau jujur, dalam pikiran saya sendiri, kegelisahan itu tidak pernah sedikit. Ia hadir hampir setiap hari, dari hal-hal kecil sampai pada sesuatu yang jauh lebih besar.
![]() |
| Dokumen 3 September 2018. Kegiatan Konsultasi OSS. Sumber: https://blog.hernawan.net/2018/09/konsultasi-oss-ke-kemenko.html |
Namun, di titik tertentu, saya menyadari bahwa kegelisahan saya berbeda dengan kegelisahan kebanyakan orang. Ia tidak sepenuhnya bebas untuk diungkapkan. Ada ruang-ruang yang harus tetap dijaga, ada batas yang tidak bisa begitu saja dilanggar.
Status saya sebagai seorang PNS membuat saya harus berpikir dua kali, bahkan mungkin berkali-kali sebelum menuliskan sesuatu ke ruang publik. Bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa setiap kata bisa memiliki makna yang lebih luas dari sekadar tulisan itu sendiri.
Kegelisahan saya seringkali berkaitan dengan kebijakan publik. Hal-hal yang saya lihat, saya rasakan, dan saya alami dalam keseharian pekerjaan. Saya melihat bagaimana sebuah kebijakan dirancang dengan niat baik, lalu diterjemahkan dalam praktik, dan pada akhirnya bertemu dengan realitas di lapangan yang tidak selalu sederhana. Di situ, kegelisahan itu muncul.
Tapi di saat yang sama, saya juga sadar bahwa jika kegelisahan itu dituliskan secara terbuka sebagai kritik, maka ia bisa ditafsirkan ke mana-mana. Kritik yang sebenarnya dimaksudkan sebagai bentuk kepedulian, bisa saja dianggap sebagai serangan. Bukan hanya kepada kebijakan, tapi juga kepada orang-orang yang berada di baliknya.
Jika saya menulis sesuatu yang berkaitan dengan pemerintah daerah, bisa saja muncul anggapan bahwa ada ketidakselarasan di dalam internal. Jika menyentuh kebijakan yang lebih luas, bahkan nasional seperti sistem perizinan berbasis OSS, bisa saja di mata sebagian orang, itu dianggap sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap pemerintah pusat, bahkan kepada Presiden. Padahal, niatnya tidak sejauh itu. Saya hanya ingin jujur pada apa yang saya lihat. Namun kenyataannya, kejujuran juga perlu cara.
Dan di situlah saya sering merasa terhenti. Saya menjadi bertanya-tanya: jika kegelisahan tidak bisa diungkapkan secara langsung, lalu harus ke mana ia pergi? Apakah harus dipendam? Apakah harus dilupakan? Atau apakah sebenarnya ada cara lain untuk tetap menuliskannya tanpa harus melanggar batas yang ada?
Saya mulai menyadari bahwa mungkin masalahnya bukan pada kegelisahan itu sendiri, melainkan pada bagaimana saya memandangnya. Selama ini, saya cenderung melihat bahwa kegelisahan harus disampaikan secara utuh agar dianggap jujur. Padahal, mungkin ada bentuk lain dari kejujuran, yang lebih halus, lebih tenang, tapi tetap bermakna.
Mungkin kegelisahan itu tidak harus selalu hadir dalam bentuk kritik yang tegas. Ia bisa hadir sebagai cerita. Sebagai potongan pengalaman. Sebagai refleksi dari pertemuan-pertemuan kecil yang sebenarnya menyimpan banyak makna.
Tentang masyarakat yang datang dengan harapan, tentang proses yang tidak selalu mudah dipahami, tentang jarak antara aturan di atas kertas dan kenyataan di lapangan. Tanpa menyebut siapa yang salah. Tanpa menunjuk ke arah tertentu. Tapi cukup untuk membuat orang lain ikut merasakan.
Di titik ini, saya mulai belajar bahwa menulis bukan hanya soal mengatakan sesuatu, tapi juga tentang bagaimana menyampaikannya. Bahwa tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang keras. Dan tidak semua yang diam berarti tidak peduli. Ada kalanya, diam itu adalah cara untuk menjaga. Dan ada kalanya, menulis dengan tenang justru lebih kuat daripada berteriak.
Kegelisahan itu, pada akhirnya, tidak hilang. Ia tetap ada. Tapi mungkin, ia tidak lagi harus menjadi beban. Ia bisa menjadi bahan baku, bukan untuk melawan, tapi untuk memahami. Bukan untuk menyerang, tapi untuk mengajak berpikir.
Dan mungkin, di situlah saya harus mulai berdamai: bahwa saya tetap bisa menulis, tanpa harus kehilangan diri saya sebagai bagian dari sistem yang saya jalani.

Komentar
Posting Komentar
Feel Free for Comment. Silahkan berkomentar apa saja. Komentar kalian sangat membantu saya. karena akan membuat saya lebih semangat :)